PUISI GUS MUS




SUJUD


Oleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Bagaimana kau hendak bersujud pasrah, sedang
Wajahmu yang bersih sumringah,
Keningmu yang mulia dan indah begitu pongah
Minta sajadah agar tak menyentuh tanah
Apakah kau melihatnya seperti iblis saat menolak
Menyembah bapamu dengan congkak
Tanah hanya patut diinjak, tempat kencing dan berak,
membuang ludah dan dahak
atau paling jauh hanya lahan pemanjaan nafsu serakah dan tamak
Apakah kau lupa bahwa
tanah adalah bapa dari mana ibumu dilahirkan
Tanah adalah ibu yang menyusuimu dan memberi makan
Tanah adalah kawan yang memelukmu dalam kesendirian
dalam perjalanan panjang menuju keabadian
Singkirkan saja sajadah mahalmu
Ratakan keningmu
Ratakan heningmuTanahkan wajahmu
Pasrahkan jiwamu
Biarlah rahmat agungAllah membelaimu dan
Terbanglah kekasih.


Download puisi Gus Mus versi mp3 klik disini.


Aku tak bisa lagi menyanyi


Oleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Aku tak bisa lagi menyanyi
bagiku tak ada lagi lirik dan musik
yang menarik untuk ku nyanyikan
bersamamu ataupun sendiri

burung-burung terlalu berisik
mendendangkan apa saja
setelah mereka merdeka
membuatku tak dapat lagi mengenali
suaramu atau suaraku sendiri

taman tempat kita istirahat becek darah
yang seharusnya tak tumpah
jalan-jalan tempat kita mendekatkan hati
tertutup dihadang geram dan amarah
malam malam tempat kita menyembunyikan cinta
dionarkan kobaran kebencian
daging daging yang selama ini kita manjakan
pun ikut terpanggang api dendam
udara di sekitar kita meruapkan bau terlalu anyir
dan lalat lalat berpesta dimana mana

bagaimana aku bisa menyanyi
aku tak mampu meski menyanyikan lagu duka
aku tak bisa mengadukan duka pada duka
mengeluhkan luka pada luka
senar gitarku putus
dan aku tak yakin mampu menyambungnya lagi
dan langit pun seolah sudah muak
dengan lagu lagu bumi yang sumbang

maaf sayang
aku tak bisa lagi menyanyi
bersamu ataupun sendiri
entah, jika nabi daud datang
membawa seruling ajaibnya


Download puisi Gus Mus versi mp3 klik disini


Selamat Idul Fitri


Oleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Sejak malam
Bahkan beberapa malam yang lalu
Hari sudah tahu kemenangannya
Akan datang


Seperti tak sabar
Semalan langit bergaung-gaung
Melantunkan takbir yang hingar bingar
Allahu Akbar! Walillahil hamdu !
Ramadhan seperti malas pergi
Seperti ada yang masih mengganjal
Belum tuntas diselesaikan
Tapi tak sabar lagi
Semua sudah dipersiapkan
Bagi melepasnya seadanya
Hari ini dan mungkin beberapa hari
Sesudah hari ini
Hari yang bersuka-ria
Adakah kau sedang mensyukuri
Kemenanganmu atas setan dan nafsu
Dibulan puasa, maka o, alangkah gembira
Ataukah karena kini
Kau terbebas lagi seperti semula
Tak ada lagi yang kau sungkani ?
Apakah ini kemenanganmu
Atau lagi-lagi kemenangan
Setan dan nafsu atas dirimu ?
Betapapun Allahu Akbar !
Bagaimanapun, waliLlahil hamdu !
Selamat Idul Fitri, mata
Maafkanlah aku selama ini
Kau hanya kugunakan melihat kilau comberan
Selamat Idul fitri telinga
maafkanlah aku, selama ini
Kau hanya kusumpali rongsokan-rongsokan kata
Selamat Idul fitri, mulut
Maafkanlah aku, selama ini
Kau hanya kujejali dan kuumbat muntahan
Onggokan-onggokan kotoran
Selamat Idul fitri, tangan
Maafkanlah aku; selama ini
Kau hanya kugunakan mecakar-cakar kawan
Dan berebut remah-remah murahan
Selamat Idul Fitri, kaki
Maafkanlah aku; selama ini
Kau hanya kuajak menendang kanan-kiri
Dan berjalan di lorong-lorong kegelapan
Selamat Idul Fitri, akal budi
Maafkanlah aku; selama ini
Kubiarkan kau terpenjara sendiri
Selamat Idul Fitri, diri
Marilah menjadi manusia kembali


Download puisi Gus Mus versi mp3 klik disini.


Nasehat Ramadhan buat Musthofa Bisri


Oleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Musthafa, jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan Ramadhan bulan ampunan.
Apakah hanya menirukan Nabi atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu.
Musthafa, Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu.
Darimu hanya untukNya. Dan Ia sendiri tak ada yang tau apa yang akan dianugerahkanNya kepadamu.
Semua yang khusus untukNya, khusus untukmu.
Musthafa, Ramadhan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu, dan bulanmu serahkanlah semata-mata padaNya.
Bersucilah untukNya, bershalatlah untukNya, berpuasalah untukNya, berjuanglah melawan dirimu sendiri untukNya.

Sucikan kelaminmu berpuasalah,
Sucikan tanganmu berpuasalah
Sucikan mulutmu berpuasalah
Sucikan hidungmu berpuasalah
Sucikan wajahmu berpuasalah
Sucikan matamu berpuasalah
Sucikan telingamu berpuasalah
Sucikan rambutmu berpuasalah
Sucikan kepalamu berpuasalah
Sucikan kakimu berpuasalah
Sucikan tubuhmu berpuasalah
Sucikan hatimu, sucikan pikiranmu berpuasalah
Sucikan dirimu….

Musthafa, bukan perut yang lapar, bukan tenggorokan yang kering yang mengingatkan kedhaifan, dan melembutkan rasa.
Perut yang kosong dan ternggorokan yang kering ternyata hanya penunggu atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.
Barangkali lebih sabar sedikit dari mata, tangan, kaki, dan kelamin. Lebih tahan sedikit berpuasa. Tapi hanya kau yang tau, hasrat dikekang untuk apa? Dan untuk siapa?

Puasakan kelaminmu untuk memuasi ridha,
Puasakan tanganmu untuk menerima kurnia
Puasakan mulutmu untuk merasai firman
Puasakan hidungmu untuk menghirup wangi
Puasakan wajahmu untuk menghadap keelokan
Puasakan matamu untuk menatap cahya
Puasakan telingamu untuk menangkap merdu
Puasakan rambutmu untuk menyerap belai
Puasakan kepalamu untuk menekan sujud
Puasakan kakimu untuk menapak shirath
Puasakan tubuhmu untuk meresapi rahmat
Puasakan hatimu untuk menikmati hakikat
Puasakan pikiranmu untuk meyakini kebenaran
Puasakan dirimu untuk menghayati hidup

Tidak…Puasakan hasratmu hanya untuk hadhiratNya.
Musthafa, Ramadhan bulan suci katamu
Kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu
Tapi bukanlah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian, keserakahan, ujub, riya, takabur, dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari comberan hatimu.

Musthafa, inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi kau puja selama ini.

Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti ramadhann-ramadhan yang lalu?


Download puisi Gus Mus versi mp3 klik disini
.


TADDARUS


Oleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Bismlllahirrahmanir Rahiim
Berhenti mengalir darahku menyimak firmanMu
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3)
Ketika bumi diguncang dengan dahsyatnya
Dan bumi memuntahkan isi perutnya
Dan manusia bertanya-tanya, bumi ini kenapa?
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6)
Ketika itu, bumi mengisahkan kisah-kisahnya
Karena Tuhanmu mengilhaminya
Ketika itu, manusia tumpah terpisah-pisah
Untuk diperlihatkan perbuatan-perbuatan mereka
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)
Maka siapa yang berbuat sezarrah kebaikanpun akan melihatnya
Dan siapa yang berbuat sezarrah kejahatanpun akan melihatnya

Ya Tuhan, akukah insan yang bertanya-tanya
Ataukah aku mukmin sudah tahu jawabanya?
Kulihat tetas diriku dalam muntahan isi Bumi
Aduhai… akan kemanakan kiranya bergulir
Diantara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah akan kulihat sezarrah saja kebaikan yang pernah ku buat

Nafas gemuruh diburu firmanMu
Dengan asma Allah yang pengasih penyayang
وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا (1) فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا (2) فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا (3) فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا (4) فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا (5)
Demi.. yang sama berpacu berdengkusan, yang sama mencetuskan api berdenyaran, yang pagi-pagi melancarkan serbuan, menerbangkan debu berhamburan, dan menembusnya ke tengah-tengah pasukan lawan.
إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (6) وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ (7) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (8)
Sungguh…manusia itu kepada Tuhannya sangat tidak tahu berterima kasih
Sungguh manusia itu sendiri tentang itu jadi saksi,
dan sungguh manusia itu sayangnya kepada harta luar biasa
أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ (9) وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ (10) إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ (11)
Tidakkah manusia itu tahu saat isi kubur dihamburkan
Saat isi dada ditumpahkan
Sungguh, tuhan mereka terhadap mereka saat itu tahu belaka

Ya Tuhan, kemana gerangan butir debu ini kan menghambur
Adakah secercah syukur menempel ketika isi dada dimuntahkan, ketika semua kesayangan dan andalan entah kemana?


Meremang bulu romaku diguncang firmanMu
Bismillahirahmaanirahiim.
الْقَارِعَةُ (1) مَا الْقَارِعَةُ (2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ (3)
Penggetar hati. Apakah penggetar hati itu? Tau kau apa itu penggetar hati?
Resah sukmaku dirasuki firmanMu
يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ (4) وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ (5)
Itulah hari manusia bagaikan belalang beterbangan dan gunung-gunung bagai bulu dihambur terbangkan
Menggigil ruas-ruas tulangku dalam firmanMu.
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (7) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9) وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (10) نَارٌ حَامِيَةٌ (11)
Barang siapa berbobot timbangan amalnya, ia akan berada dalam kehidupan memuaskan, dan barang siapa enteng timbangan amalnya tempat tinggalnya di Hawiyyah. Tau kau apa itu? Api yang sangat panas membakar.
Ya Tuhan, kemana gerangan belalang malang ini kan terlempar. Gunung amal yang dibanggakan jadikah selembar bulu saja memberati timbangan. Ataukah gunung-gunung dosa akan melumatnya bagi persembahan lidah hawiyyah. Ataukah …. Oooh kalau saja Yang Maha RahmatMu akan menerbangkannya ke lautan ampunan…. Shadaqallalhul adziim.

Download puisi Gus Mus versi mp3 klik di sini
.


Aku Merindukanmu, oh Muhammadku


Oleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)


Aku merindukanmu oh Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah
yang kalah
menatap mataku yang tak berdaya
sementara tangan-tangan perkasa
terus mempermainkan kelemahan
airmataku pun mengalir mengikuti panjang
jalan
mencari-cari tangan
lembut-wibawamu

Dari dada-dada tipis papan
terus kudengar suara serutan
derita mengiris berkepanjangan
dan kepongahan tingkah-meningkah
telingaku pun kutelengkan
berharap sesekali mendengar
merdu-menghibur suaramu
Aku merindukanmu oh Muhammadku

Ribuan tangan gurita keserakahan
menjulur-julur ke sana kemari
mencari mangsa memakan kurban
melilit bumi meretas harapan
aku pun dengan sisa-sisa suaraku
mencoba memanggil-manggilmu
Oh Muhammadku, oh Muhammadku
Di mana-mana sesama suadara
saling cakar berebut benar
sambil terus berbuat kesalahan

Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan
masing-masing mereka yang berkepentingan
aku pun meninggalkan mereka
mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

Aku merindukanmu oh Muhammadku

Sekian banyak Abu Jahal Abu Lahab
menitis ke sekian banyak umatmu
Oh Muhammadku-salawat dan salam bagimu-
bagaimana melawan gelombang kebodohan
dan kecongkakan yang telah tergayakan
bagaimana memerangi umat sendiri?
Oh Muhammadku

Aku merindukanmu oh Muhammadku
Aku sungguh merindukanmu.


Download puisi Gus Mus versi mp3 klik disini


DI ARAFAH


Oleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)


Terlentang aku
seenaknya dalam pelukan bukit-bukit
batu bertenda langit biru,
seorang anak entah
berkebangsaan apa
mengikuti anak mataku
dan dalam
isyarat bertanya-tanya
kapan Tuhan turun?
Aku tersenyum.
Setan mengira dapat mengendarai
matahari,
mengusik khusukku apa tak melihat
ratusan ribu hati putih
menggetarkan bibir,
melepas dzikir,
menjagamu
dari jutaan milyar malaikat
menyiramkan berkat.
Kulihat diriku
terapung-apung
dalam nikmat dan sianak
entah berkebangsaan apa
seperti melihat arak-arakan
karnaval menari-nari
dengan riangnya.

Terlentang aku
satu diantara jutaan tumpukan
dosa yang mencoba menindih,
akankah
kiranya bertahan dari banjir
air mata penyesalan
massal ini

Gunung-gunung batu
menirukan tasbih kami,
pasir menghitung wirid kami
dan sianak
yang aku tak tahu
berkebangsaan apa
tertidur dipangkuanku
pulas sekali



Download puisi Gus Mus versi mp3 klik disini


BUAH MATA


Oleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)


Sekali pancar cintamu melepas luncurkan ratusan juta makhluk hidup yang tak kasat mata
Berlomba berenang digarda istrimu yang tercinta berebut mahkota yang membuahkan

Buah mata
Ikutlah sesekali meluncur berenang dalam sungai cintamu sampai kegarda kehidupan
Lihatlah proses agung penciptaan anakmu yang dahsyat
Wahai alangkah rumit
Wahai alangkah ajaib
Wahai alangkah wahai

Nutfah jadi darah
Darah jadi daging
kaukah yang menjadikan kulit membalut daging
Daging membalut tulang
Tulang membalut sumsum
Kaukah yang membalut?

Otot-otot, urat-urat, syaraf-syaraf, septor-septor, kelenjar-kelenjar, sel-sel, bulu-bulu, rongga-ronga, pori-pori, usus-usus, paru-paru, mata, hidung, telinga, mulut, limpah, ginjal, kelamin, dubur, jantung, otak, hati
Ruh!

Lihatlah air cinta yang kau tumpahkan bagai hujan tumpah kebumi
Bumi membelah diri bagi suatu kelahiran

Kau tak meniupkan ruh, tak meniupkan cipta
Bagaimana anakmu mampu hidup dan mencipta?
Kau tak meniupkan indra, tak memasang anggota
Bagaimana anakmu mampu mengindra dan nyata?
Kau tak menitipkan rasa, tak menitipkan kata
Bagaimana anakmu mampu merasa dan berkata?
Kau tak menitipkan benci, tak menitipkan cinta
Bagaimana anakmu mampu membenci dan mencinta?
Kau tak menitipkan senyum, tak menitipkan air mata
Bagaimana anakmu mampu tersenyum dan mengucurkan air mata?

Kau tak meniupkan apa-apa, tak menitipkan apa-apa
Karena memang kau seperti anakmu juga, sejak mula tak memiliki apa-apa
Bagaimana kau mengaku segala apa?

Kau tahu? pemiliknya yang sejati menitip amanatkan kepadamu
dan tak pernah berhenti mengawasimu



Download puisi Gus Mus versi mp3 klik disini
.